Jakarta, opinca.sch.id – Sebagai pembawa berita yang cukup sering mengamati dapur operasional berbagai organisasi, ada satu istilah yang sering terdengar kaku, bahkan sedikit menakutkan bagi sebagian orang. Operational control. Kedengarannya teknis, formal, dan identik dengan aturan ketat. Padahal, jika ditarik ke praktik sehari-hari, operational control itu sangat manusiawi.
Operational control pada dasarnya adalah upaya menjaga agar semua proses berjalan sesuai rencana. Tidak lebih, tidak kurang. Mulai dari alur kerja, penggunaan sumber daya, sampai cara menghadapi masalah saat realita tidak sesuai target.
Saya pernah berkunjung ke sebuah kantor operasional yang terlihat sibuk tapi tertata. Tidak ada yang berteriak, tidak ada kepanikan berlebihan, meski pekerjaan menumpuk. Ketika ditanya apa rahasianya, jawabannya sederhana. Semua tahu perannya, semua tahu batasannya, dan semua tahu apa yang harus dilakukan kalau ada masalah. Itulah operational control dalam bentuk paling nyata.
Banyak orang salah kaprah. Mengira operational control itu soal mengontrol manusia. Padahal yang dikontrol adalah proses. Alur kerja. Risiko. Bukan orangnya.
Tanpa operational control, organisasi seperti kapal tanpa kemudi. Jalan sih jalan, tapi arah tidak jelas. Hari ini mungkin aman, besok bisa menabrak masalah besar.
Operational control juga bukan hal yang hanya dibutuhkan perusahaan besar. Usaha kecil, tim proyek, bahkan organisasi non-profit sangat bergantung pada kontrol operasional yang baik. Bedanya hanya di skala dan kompleksitas.
Di era sekarang, ketika tuntutan serba cepat dan serba efisien, operational control justru makin relevan. Bukan untuk membatasi kreativitas, tapi untuk memastikan kreativitas itu tidak berujung kekacauan.
Mengapa Operational Control Menjadi Fondasi Operasional yang Sehat
Dalam dunia operasional, ada satu prinsip sederhana. Kalau tidak dikontrol, sesuatu pasti menyimpang. Bukan karena orangnya berniat buruk, tapi karena manusiawi. Lelah, lupa, salah paham, atau terlalu sibuk.
Operational control hadir untuk meminimalkan penyimpangan itu. Ia menjadi pagar, bukan penjara.
Sebagai jurnalis, saya sering melihat kasus kegagalan operasional bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang kontrol. Target jelas, tim kompeten, tapi proses tidak diawasi. Akhirnya, hasil melenceng.
Operational control membantu organisasi memastikan bahwa apa yang direncanakan benar-benar dijalankan. Bukan hanya di awal, tapi sepanjang proses. Dari input, proses, sampai output.
Misalnya dalam operasional harian. Tanpa kontrol, penggunaan anggaran bisa membengkak, Tanpa disadari. Tanpa niat buruk. Hanya karena tidak ada mekanisme pengecekan.
Operational control juga berkaitan erat dengan kualitas. Produk atau layanan yang konsisten lahir dari proses yang terkontrol. Kalau hari ini bagus, besok buruk, itu tanda kontrol lemah.
Ada cerita fiktif tentang sebuah tim operasional yang sering lembur. Bukan karena pekerjaannya berat, tapi karena kesalahan kecil yang berulang. Data tidak dicek, jadwal tidak dikonfirmasi, instruksi tidak terdokumentasi. Setelah mereka membenahi operational control, lembur berkurang drastis. Bukan karena beban kerja hilang, tapi karena kesalahan bisa dicegah lebih awal.
Operational control bukan soal menambah pekerjaan, tapi mengurangi pekerjaan yang seharusnya tidak perlu.
Tantangan Operational Control di Lapangan yang Jarang Dibicarakan
Menerapkan operational control di atas kertas itu mudah. Tantangannya ada di lapangan. Di dunia nyata, di tengah tekanan waktu dan dinamika manusia.
Salah satu tantangan terbesar adalah resistensi. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kontrol. Merasa diawasi, dicurigai, atau dibatasi. Padahal, kontrol yang baik seharusnya terasa membantu, bukan menekan.
Tantangan lain adalah konsistensi. Di awal, semua semangat. Prosedur dijalankan. Laporan dibuat. Tapi seiring waktu, disiplin menurun. Kontrol mulai longgar. Dan masalah pelan-pelan muncul.
Ada juga tantangan komunikasi. Operational control gagal bukan karena sistemnya buruk, tapi karena tidak dipahami. Instruksi tidak jelas. Standar tidak disosialisasikan. Akhirnya, setiap orang menafsirkan dengan caranya sendiri.
Teknologi juga membawa tantangan baru. Sistem digital memudahkan kontrol, tapi juga bisa menciptakan ketergantungan. Saat sistem bermasalah, tim panik karena tidak terbiasa berpikir manual.
Saya pernah melihat situasi di mana operasional terhenti hanya karena satu aplikasi error. Tidak ada rencana cadangan. Ini bukan salah teknologinya, tapi kurangnya kontrol yang adaptif.
Operational control yang baik harus fleksibel. Punya standar, tapi juga punya ruang penyesuaian. Dunia operasional tidak selalu ideal. Ada faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan, dan di situlah kecerdasan kontrol diuji.
Praktik Operational Control yang Efektif dan Realistis
Operational control yang efektif tidak harus rumit. Justru yang terlalu rumit sering gagal diterapkan.
Langkah pertama adalah kejelasan peran. Siapa melakukan apa. Siapa bertanggung jawab atas apa. Tanpa ini, kontrol akan tumpang tindih atau malah kosong.
Langkah berikutnya adalah standar operasional yang masuk akal. Tidak terlalu idealis, tidak terlalu longgar. Standar harus bisa dijalankan oleh manusia, bukan hanya bagus di dokumen.
Monitoring juga penting. Tapi monitoring tidak selalu berarti laporan panjang. Bisa berupa check-in singkat, evaluasi rutin, atau diskusi terbuka tentang kendala.
Saya pernah melihat manajer operasional yang memilih duduk bersama timnya seminggu sekali. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mendengar. Dari situ, banyak masalah kecil terdeteksi sebelum membesar. Itu bentuk operational control yang sangat manusiawi.
Feedback adalah bagian penting lainnya. Kontrol tanpa umpan balik hanya akan terasa satu arah. Tim perlu tahu apakah mereka sudah on track atau perlu perbaikan.
Dokumentasi juga sering diremehkan. Padahal, dokumentasi adalah memori organisasi. Tanpa dokumentasi, kesalahan yang sama akan terulang.
Operational control yang baik juga selalu dievaluasi. Apa yang bekerja hari ini belum tentu relevan besok. Lingkungan berubah, beban kerja berubah, orang berubah. Kontrol harus ikut menyesuaikan.
Operational Control sebagai Penjaga Keberlanjutan Operasional
Pada akhirnya, operational control bukan sekadar alat manajemen. Ia adalah penjaga keberlanjutan. Tanpanya, operasional mungkin tetap berjalan, tapi rapuh.
Sebagai pembawa berita, saya sering melihat organisasi yang tampak sukses dari luar, tapi rapuh di dalam. Satu masalah kecil saja bisa menjatuhkan semuanya. Biasanya, akar masalahnya ada di kontrol operasional yang lemah.
Operational yang baik menciptakan stabilitas. Bukan berarti tanpa masalah, tapi masalah bisa ditangani lebih cepat dan lebih terukur.
Kontrol operasional juga melindungi manusia di dalamnya. Dengan proses yang jelas, beban kerja lebih seimbang. Kesalahan tidak selalu dibebankan ke individu, tapi dilihat sebagai bagian dari sistem.
Di dunia kerja modern yang menuntut kecepatan dan fleksibilitas, operational sering disalahpahami sebagai penghambat. Padahal, justru kontrol yang baik membuat organisasi lebih gesit. Karena tahu batas, tahu risiko, dan tahu langkah yang harus diambil.
Operational control bukan tentang mengikat, tapi menuntun. Bukan tentang curiga, tapi tentang siap.
Dan ketika operasional berjalan stabil, tim bisa fokus pada hal yang lebih besar. Inovasi. Pengembangan. Pertumbuhan.
Mungkin operational control tidak pernah menjadi topik yang viral. Tidak seksi. Tidak glamor. Tapi di balik layar, dialah yang memastikan semua tetap berjalan.
Dan seperti banyak hal penting lainnya dalam dunia operasional, yang paling berharga sering kali bekerja dalam diam.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Management
Baca Juga Artikel Dari: Kapitalisasi Pasar: Memahami Dinamika Dalam Financial Modern
