Saya pertama kali dengar istilah bullish pas awal mulai belajar saham. Waktu itu, saya kira itu cuma istilah keren buat menggambarkan pasar yang lagi rame. Tapi makin ke sini, saya sadar bahwa bullish market bukan cuma istilah — ini kondisi psikologis pasar yang bisa bikin kamu untung besar… atau malah kejebak euforia.
Bullish market sering jadi momen yang ditunggu-tunggu para investor. Harga saham naik, indeks bergerak positif, dan semua orang mulai ngomongin cuan. Tapi tunggu dulu — apakah setiap kali pasar naik, kita harus langsung masuk dan beli? Atau ada hal lain yang harus kamu pertimbangkan?
Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi dan riset yang saya pelajari dari pasar. Saya akan bahas apa itu bullish market, cara mengenalinya, strategi yang bisa kamu ambil, dan tentu saja — risiko-risiko yang perlu kamu waspadai.
Bullish Market adalah
Secara sederhana, bullish market adalah kondisi di mana pasar secara umum mengalami tren naik. Harga-harga saham bergerak naik dalam periode waktu yang cukup panjang. Nggak cuma sehari dua hari ya, tapi bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Kondisi ini mencerminkan kepercayaan investor yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi dan prospek perusahaan. Orang-orang optimis. Mereka percaya harga akan terus naik, jadi permintaan meningkat — dan harga pun naik makin tinggi.
Saya pribadi pernah ngalamin euforia pasar bullish di tahun 2020 setelah krisis COVID-19 mulai mereda. Banyak saham bangkit dari dasar, bahkan beberapa naik sampai ratusan persen. Tapi saya juga lihat banyak orang yang FOMO — beli tanpa analisa — dan akhirnya nyangkut pas tren berubah arah.
Apa Itu Bullish Market dan Bearish Market di Saham
Istilah bullish dan bearish sebenarnya berasal dari cara dua hewan menyerang.
-
Bull (banteng) menyerang dengan menanduk ke atas. Makanya bullish artinya pasar naik.
-
Bear (beruang) menyerang dengan mencakar ke bawah. Jadi bearish artinya pasar menurun.
Dalam dunia saham, kondisi ini menggambarkan arah umum harga:
-
Bullish market: harga naik, sentimen positif, volume transaksi meningkat.
-
Bearish market: harga turun, ketidakpastian meningkat, banyak aksi jual.
Kenapa ini penting? Karena strategi kamu di pasar akan sangat bergantung pada fase yang sedang terjadi. Kalau kamu pakai strategi bullish di saat pasar bearish, ya bisa jadi kamu beli di pucuk dan jual di dasar. Sakit banget.
Arti Bullish di Pasar Saham
Bullish market bukan cuma soal naiknya harga. Ini soal psikologi massal.
Waktu pasar masuk fase bullish, kamu akan lihat:
-
Media mulai meliput soal “tren investasi”.
-
Grup saham di media sosial makin ramai.
-
Emiten berlomba-lomba kasih kabar baik ke publik.
-
IPO (Initial Public Offering) mulai bermunculan lagi.
Investor merasa percaya diri. Dana asing masuk. Retail juga mulai aktif. Kalau kamu perhatikan IHSG atau indeks lainnya, grafiknya naik stabil. Koreksi pun hanya terjadi sesekali dan bersifat teknikal, bukan karena krisis fundamental.
Di fase ini, banyak saham mencetak all-time high. Tapi yang perlu kamu waspadai adalah efek psikologisnya: orang mulai rakus. Dan di sinilah kamu harus belajar menahan diri.
Perbedaan dengan Bearish Market
Mari kita lihat perbandingannya lebih spesifik:
Aspek | Bullish Market | Bearish Market |
---|---|---|
Sentimen pasar | Optimis, percaya diri | Pesimis, penuh ketakutan |
Pergerakan harga | Naik terus-menerus | Turun terus-menerus |
Volume transaksi | Meningkat | Menurun |
Aktivitas IPO | Banyak | Jarang |
Strategi umum | Beli dan hold | Hindari beli, lebih defensif |
Media dan sosial media | Narasi positif, euforia | Penuh kekhawatiran |
Perbedaan ini penting banget kamu pahami, apalagi kalau kamu baru mulai belajar investasi. Jangan asal ikut tren tanpa tahu pasar sedang di fase apa.
Tanda-Tanda Terjadinya Bullish
Jadi, gimana kamu tahu pasar sedang bullish?
Ada beberapa indikator yang bisa kamu amati:
-
Indeks saham naik konsisten selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
-
Volume transaksi meningkat, terutama di saham-saham besar.
-
Dana asing masuk ke pasar modal Indonesia, bisa dilihat dari net foreign buy.
-
Sektor-sektor defensif mulai ditinggalkan, investor beralih ke sektor cyclical dan growth.
-
Yield obligasi relatif rendah, artinya investor lebih memilih saham.
-
Berita ekonomi positif muncul bertubi-tubi, seperti inflasi terkendali atau pertumbuhan ekonomi tinggi.
Saya biasanya juga memperhatikan pergerakan saham-saham blue chip seperti BBRI, BBCA, TLKM, dan UNVR. Kalau mereka mulai reli, itu bisa jadi sinyal awal tren bullish.
Strategi Investasi saat Bullish Market: Aksi atau Tunggu?
Nah, bagian ini yang sering bikin galau. Kalau pasar lagi naik, harusnya kita langsung masuk dan beli dong? Belum tentu.
Saya pernah belajar dari pengalaman: saat pasar naik terlalu cepat, risiko koreksi juga besar. Jadi daripada langsung all-in, kamu bisa pertimbangkan strategi seperti:
-
Buy on breakout: beli saat harga menembus resistance penting dengan volume besar.
-
Swing trading: manfaatkan fluktuasi harga harian atau mingguan.
-
Scaling in: masuk bertahap, nggak langsung borong banyak.
-
Trailing stop: pasang batas kerugian yang menyesuaikan harga naik.
-
Pilih saham fundamental kuat: jangan kejar gorengan saat pasar bullish, karena kalau berbalik arah, saham-saham gorengan biasanya jatuh paling dulu.
Yang pasti, kamu tetap harus punya rencana. Jangan asal beli karena “semua orang beli.” Euforia pasar itu nyata, dan sering kali jadi jebakan.
Suka bermain game? Cek juga https://teckknow.com untuk tahu update game terlengkap 2025!
Risiko dan Pertimbangan dalam Mengikuti Tren Bullish
Meski kelihatan indah, bullish market tetap menyimpan risiko. Bahkan, bisa dibilang fase ini lebih berbahaya karena banyak orang jadi overconfident.
Berikut beberapa risiko yang saya alami sendiri:
-
Masuk di harga terlalu tinggi (buying at peak).
-
Terlambat keluar saat tren berbalik.
-
Mengabaikan analisis fundamental demi tren jangka pendek.
-
Over leverage atau pinjam dana buat beli saham.
-
Kena mental saat koreksi datang mendadak.
Saya pernah rugi lumayan karena terlalu percaya tren. Waktu itu, saya pikir saham teknologi akan terus naik karena sedang booming. Tapi begitu koreksi tajam datang, saya nggak sempat keluar. Dan saya belajar satu hal: tren bisa berubah cepat, dan kamu harus siap.
Makanya, meskipun pasar sedang naik, tetap sisihkan sebagian portofolio untuk cash atau reksa dana pasar uang. Jangan serahkan semuanya ke satu arah.
Kapan Bullish Market Biasanya Terjadi?
Bullish market nggak terjadi begitu saja. Ada latar belakang ekonomi dan kebijakan yang mendukung. Beberapa kondisi yang biasanya memicu tren bullish antara lain:
-
Pemulihan dari krisis ekonomi (seperti pasca COVID-19).
-
Penurunan suku bunga acuan dari bank sentral.
-
Kebijakan fiskal ekspansif, seperti stimulus dari pemerintah.
-
Pertumbuhan ekonomi tinggi dan stabil.
-
Kondisi global relatif aman dan minim konflik.
Kamu bisa pelajari indikator makroekonomi seperti GDP growth, inflasi, indeks manufaktur, hingga indeks keyakinan konsumen. Semakin kuat datanya, semakin besar peluang tren bullish bertahan.
Apakah Semua Saham Naik Saat Bullish Market?
Jawabannya: tidak semua. Memang indeks bisa naik, tapi tidak semua sektor ikut naik. Itulah pentingnya rotasi sektor financial.
Contoh:
-
Di awal tren bullish, sektor konsumer dan perbankan biasanya jadi primadona.
-
Setelah itu, investor beralih ke sektor industri dasar, properti, atau energi.
-
Saham teknologi sering jadi yang terakhir booming, tapi juga paling rentan saat tren berbalik.
Jadi saat pasar bullish, kamu tetap harus selektif. Perhatikan aliran dana (flow), perhatikan sektor yang mulai bergerak, dan jangan asal beli semua.
Perlukah Kamu Menjual Saham di Tengah Bullish Market?
Ini pertanyaan penting yang sering saya dapat dari teman-teman: “Kalau udah untung, mending jual sekarang atau tunggu naik lagi?”
Jawaban saya: tergantung strategi kamu.
Kalau kamu trader jangka pendek, kamu bisa mulai realization profit bertahap. Tapi kalau kamu investor jangka panjang dan saham yang kamu pegang punya fundamental kuat, kamu bisa hold dan nikmati kenaikan dividen.
Kuncinya: jangan serakah. Kalau target sudah tercapai, nggak ada salahnya ambil sebagian cuan. Sisanya bisa kamu kunci untuk jangka panjang.
Saya biasanya pakai pendekatan 80/20: 80% untuk long-term hold, 20% untuk swing trading dan ambil profit cepat.
Kesimpulan: Menyikapi Bullish Market dengan Bijak
Bullish market adalah peluang besar — tapi hanya bagi mereka yang siap. Jangan biarkan euforia menutupi analisa. Jangan ikuti orang lain tanpa tahu arah kamu sendiri.
Saat pasar sedang naik, kamu tetap harus punya strategi. Pelajari pola pasar, disiplin dalam manajemen risiko, dan jangan lupa sesuaikan dengan tujuan keuangan kamu.
Saya sendiri tidak selalu masuk saat bullish, dan itu nggak masalah. Kadang, menunggu itu lebih baik daripada kejebak di pucuk. Tapi kalau kamu sudah siap, sudah punya plan, dan tahu apa yang kamu beli — maka bullish market bisa jadi panggung kamu untuk tumbuh.
Ingat: cuan itu bonus, kontrol risiko itu wajib.
Pemain saham juga wajib tahu efisiensi pemilihan strategi ini: Arbitrase Pasar: Strategi Memanfaatkan Perbedaan Harga Saham