Biaya Logistik: Komponen, Tantangan, dan Cara Menekannya

JAKARTA, opinca.sch.id – Biaya logistik menjadi salah satu faktor penentu daya saing sebuah negara di pasar global. However, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menekan pengeluaran di sektor ini. Moreover, World Bank mencatat bahwa pengeluaran untuk sektor ini mencapai 14,29 persen dari total PDB pada tahun 2022. Also, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang hanya 13 persen. Therefore, memahami seluk beluk pengeluaran di sektor ini sangat penting bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan.

Sektor transportasi dan pergudangan menyumbang sekitar Rp1.358 triliun terhadap PDB pada tahun 2024. In addition, Supply Chain Indonesia memproyeksikan angka tersebut naik menjadi sekitar Rp1.500 triliun pada tahun 2025. Furthermore, kontribusi sektor ini terhadap PDB meningkat dari 8,69 persen menjadi sekitar 9 persen. Also, pertumbuhan ini menunjukkan besarnya peran sektor tersebut dalam perekonomian nasional. Therefore, efisiensi di sektor ini memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Indonesia menempati posisi ke 63 dari 139 negara dalam Logistics Performance Index tahun 2023. In addition, peringkat tersebut menunjukkan bahwa kinerja sektor ini masih perlu banyak perbaikan. Furthermore, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik dari 14,29 persen menjadi 8 persen dari PDB. Also, target ambisius ini menjadi bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Therefore, semua pemangku kepentingan perlu bekerja sama untuk mencapai target tersebut.

Komponen Utama Pembentuk Biaya Logistik

Biaya Logistik

Setiap pelaku usaha perlu memahami komponen pembentuk biaya logistik agar bisa mengelolanya dengan efisien. However, banyak perusahaan belum menyadari bahwa pengeluaran ini terdiri dari beberapa elemen yang saling terkait. Also, memahami setiap komponen membantu mengidentifikasi area yang bisa dihemat. Therefore, berikut penjelasan tentang komponen utama pembentuknya.

Berikut komponen utama biaya logistik:

  • Pengeluaran untuk transportasi menjadi komponen terbesar yang mencapai sekitar 40 hingga 50 persen dari total. In addition, komponen ini mencakup ongkos pengiriman barang melalui jalur darat, laut, dan udara. Furthermore, harga bahan bakar menyumbang 40 hingga 50 persen dari total ongkos transportasi itu sendiri. Also, jarak tempuh, kondisi jalan, dan pemilihan moda angkutan sangat mempengaruhi besarnya komponen ini
  • Pengeluaran untuk pergudangan mencakup sewa tempat penyimpanan, perawatan fasilitas, dan pengelolaan stok barang. Moreover, perusahaan yang memiliki gudang sendiri tetap menanggung biaya listrik, keamanan, dan tenaga kerja. In addition, lokasi gudang yang strategis bisa menekan ongkos pengiriman ke tujuan akhir
  • Pengeluaran untuk penanganan barang mencakup proses bongkar muat, pengemasan, dan sortir di setiap titik distribusi. Also, komponen ini sering terabaikan padahal menyumbang porsi yang cukup besar dalam keseluruhan pengeluaran. Furthermore, efisiensi proses penanganan barang sangat bergantung pada ketersediaan peralatan dan tenaga terlatih
  • Pengeluaran untuk pengelolaan persediaan mencakup modal yang tertahan dalam stok barang di gudang. In addition, perusahaan menanggung risiko kerusakan, penyusutan, dan kadaluarsa barang selama penyimpanan. Therefore, pengelolaan stok yang tepat mengurangi modal tertahan dan menekan kerugian
  • Pengeluaran untuk pemrosesan informasi mencakup sistem pencatatan, pelacakan, dan koordinasi antar pihak dalam rantai pasok. Furthermore, investasi pada sistem teknologi informasi semakin penting di era digital saat ini. Also, perusahaan yang menerapkan sistem pelacakan waktu nyata bisa meningkatkan efisiensi secara signifikan

Perbandingan dengan Negara Lain di Kawasan ASEAN

Membandingkan biaya logistik Indonesia dengan negara lain memberikan gambaran tentang posisi daya saing nasional. However, setiap negara memiliki karakteristik geografis dan ekonomi yang berbeda beda. Also, perbandingan ini membantu mengidentifikasi area yang perlu segera mendapat perhatian. Therefore, berikut data perbandingannya.

Berikut perbandingan di kawasan ASEAN:

  1. Singapura mencatat pengeluaran sektor ini hanya sebesar 8,1 persen dari PDB. In addition, negara ini memiliki pelabuhan dan bandara terbaik di dunia yang sangat efisien. Therefore, Singapura menjadi acuan bagi negara kawasan dalam hal efisiensi rantai pasok
  2. Malaysia mencatat pengeluaran sebesar 13 persen dari PDB untuk sektor yang sama. Furthermore, infrastruktur jalan dan pelabuhan yang baik mendukung efisiensi distribusi barang. Also, kedekatan geografis dengan jalur perdagangan utama turut menekan ongkos pengiriman
  3. Thailand mencatat pengeluaran sebesar 13,2 persen dari PDB. Moreover, negara ini memiliki jaringan jalan darat yang sangat baik dan terhubung langsung dengan negara tetangga. In addition, pemerintah Thailand aktif mendorong digitalisasi di sektor rantai pasok
  4. Vietnam mencatat pengeluaran sebesar 15 persen dari PDB untuk sektor ini. Also, meski angkanya lebih tinggi dari Malaysia dan Thailand namun Vietnam terus memperbaiki infrastrukturnya. Furthermore, investasi besar di sektor pelabuhan dan jalan tol mendukung penurunan pengeluaran secara bertahap
  5. Indonesia mencatat pengeluaran sebesar 14,29 persen dari PDB pada tahun 2022 menurut World Bank. However, jika memasukkan ongkos pengiriman barang ekspor total angkanya mencapai 23,08 persen. Therefore, Indonesia masih memerlukan upaya besar untuk menyamai efisiensi negara tetangga

Tantangan Utama yang Mendorong Tingginya Pengeluaran

Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang membuat biaya logistik tetap tinggi dibandingkan negara lain. However, setiap tantangan memiliki akar masalah yang bisa diidentifikasi dan dicari solusinya. Also, memahami tantangan ini membantu pelaku usaha menyusun strategi yang tepat. Therefore, berikut tantangan utama yang perlu mendapat perhatian.

Berikut tantangan utama di sektor ini:

  • Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menjadi tantangan mendasar. In addition, distribusi barang antar pulau memerlukan moda transportasi laut yang memakan waktu dan ongkos besar. Furthermore, ketimpangan arus barang antara wilayah barat dan timur menciptakan masalah backhauling yang sangat serius. Also, banyak kapal kembali dalam keadaan kosong dari wilayah timur ke barat sehingga ongkos pengiriman membengkak
  • Infrastruktur jalan dan pelabuhan di banyak daerah masih belum memadai untuk mendukung distribusi yang efisien. Moreover, meski pemerintah terus membangun jalan tol dan pelabuhan baru namun pemerataan masih menjadi kendala. In addition, kondisi jalan di wilayah terpencil sering mengalami kerusakan yang memperlambat pengiriman barang
  • Penerapan teknologi digital di sektor rantai pasok Indonesia masih belum optimal. Also, sistem pelacakan waktu nyata bisa meningkatkan efisiensi namun belum banyak perusahaan yang menerapkannya. Furthermore, data Logistics Performance Index menunjukkan Indonesia mengalami penurunan skor di komponen pelacakan antara tahun 2018 dan 2023
  • Koordinasi antar moda transportasi masih lemah sehingga perpindahan barang dari satu moda ke moda lain memakan waktu dan ongkos. In addition, pelabuhan dan bandara belum sepenuhnya terintegrasi dengan jaringan jalan dan kereta api. Therefore, kelancaran arus barang terhambat di titik titik perpindahan moda
  • Regulasi dan birokrasi yang kompleks turut menambah beban pengeluaran bagi pelaku usaha. Furthermore, proses perizinan dan dokumentasi yang berbelit memperlambat pergerakan barang di pelabuhan. Also, inefisiensi di pelabuhan masih menjadi permasalahan meski pemerintah sudah menyederhanakan dokumentasi

Kebijakan Pemerintah untuk Menekan Biaya Logistik

Pemerintah Indonesia menerapkan berbagai kebijakan strategis untuk menekan biaya logistik nasional. Also, kebijakan ini mencakup pengembangan infrastruktur, digitalisasi, dan pemberian insentif fiskal. Furthermore, target penurunan menjadi 8 persen dari PDB membutuhkan kerja sama semua pihak. Therefore, berikut kebijakan utama yang sudah dan sedang berjalan.

Berikut kebijakan pemerintah di sektor ini:

  • National Logistic Ecosystem atau NLE menjadi kebijakan utama berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2020. In addition, NLE bertujuan memperbaiki ekosistem rantai pasok nasional agar lebih efisien dari sisi waktu dan ongkos. Furthermore, saat ini 264 pelabuhan sudah menggunakan sistem Inaportnet dan 46 pelabuhan sudah terintegrasi dengan NLE. Also, enam bandara sudah menerapkan Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu untuk mempercepat proses clearance barang
  • Pemerintah terus membangun dan memperluas jaringan infrastruktur termasuk jalan tol, pelabuhan, dan bandara. Moreover, program Tol Laut menjadi salah satu upaya menekan ketimpangan distribusi antara wilayah barat dan timur. In addition, optimalisasi pemanfaatan Tol Laut membantu menurunkan ongkos pengiriman ke daerah terpencil
  • Pemerintah sedang menyelesaikan Rancangan Perpres Penguatan Sistem Rantai Pasok Nasional. Furthermore, perpres tersebut mencakup tiga pilar utama yaitu pengembangan konektivitas infrastruktur, digitalisasi layanan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Therefore, kebijakan ini menjadi kerangka besar untuk mencapai target efisiensi jangka panjang
  • Pemberian insentif fiskal seperti PMK Nomor 71 Tahun 2022 membantu meningkatkan efisiensi jasa pengiriman ekspres. Also, kebijakan ini mendukung pertumbuhan pengguna jasa pengiriman yang diproyeksikan mencapai 21 juta pada tahun 2025. Furthermore, pencabutan insentif ini berpotensi menaikkan ongkos pengiriman dan merugikan sektor perdagangan daring serta UMKM

Tips Menekan Pengeluaran bagi Pelaku Usaha

Pelaku usaha bisa menerapkan berbagai strategi untuk menekan biaya logistik dalam operasional sehari hari. Also, penghematan di sektor ini langsung berdampak pada peningkatan keuntungan dan daya saing perusahaan. Therefore, berikut tips yang bisa segera diterapkan.

Berikut tips menekan pengeluaran di sektor ini:

  1. Terapkan sistem manajemen transportasi atau TMS untuk mengoptimalkan rute pengiriman dan memaksimalkan muatan kendaraan. In addition, sistem ini membantu mengurangi jarak tempuh dan konsumsi bahan bakar secara signifikan
  2. Gunakan sistem manajemen gudang atau WMS untuk mengelola persediaan barang secara efisien dan akurat. Furthermore, sistem ini mengurangi risiko kelebihan stok, kerusakan barang, dan modal yang tertahan terlalu lama
  3. Manfaatkan kolaborasi antar perusahaan untuk berbagi kapasitas kendaraan dan ruang gudang. Also, kolaborasi ini bisa berupa konsorsium pengiriman atau aliansi strategis dengan mitra bisnis. Moreover, penghematan dari kolaborasi bisa mencapai dua digit persen dari total pengeluaran
  4. Pilih lokasi gudang yang strategis dan dekat dengan titik distribusi utama atau pelabuhan. In addition, kedekatan dengan pelabuhan atau jalan tol menekan ongkos pengiriman ke tujuan akhir secara signifikan
  5. Adopsi teknologi pelacakan waktu nyata untuk meningkatkan visibilitas dan kontrol terhadap pergerakan barang. Furthermore, teknologi ini membantu mengantisipasi keterlambatan dan mengambil keputusan lebih cepat
  6. Optimalkan konsolidasi pengiriman agar setiap kendaraan mengangkut barang dengan kapasitas maksimal. Also, pengiriman yang terkonsolidasi mengurangi frekuensi perjalanan dan menekan ongkos per unit barang
  7. Negosiasikan kontrak jangka panjang dengan penyedia jasa pengiriman untuk mendapatkan tarif yang lebih kompetitif. Therefore, hubungan kemitraan jangka panjang biasanya menghasilkan harga yang lebih hemat dibandingkan pengiriman satuan

Kesimpulan

Biaya logistik menjadi faktor penentu daya saing Indonesia di pasar global dengan angka mencapai 14,29 persen dari PDB pada tahun 2022. For example, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan Singapura 8,1 persen, Malaysia 13 persen, dan Thailand 13,2 persen. Furthermore, komponen utama pembentuknya meliputi pengeluaran untuk transportasi, pergudangan, penanganan barang, pengelolaan persediaan, dan pemrosesan informasi. Also, tantangan geografis sebagai negara kepulauan, infrastruktur yang belum merata, dan penerapan teknologi yang belum optimal menjadi penyebab utama tingginya angka tersebut.

Moreover, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk menekan pengeluaran di sektor ini termasuk NLE, pembangunan infrastruktur, dan insentif fiskal. In addition, target penurunan menjadi 8 persen dari PDB memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dari pemerintah hingga pelaku usaha. Therefore, setiap perusahaan perlu menerapkan strategi efisiensi mulai dari adopsi teknologi, kolaborasi pengiriman, hingga optimalisasi gudang dan rute. Finally, pengelolaan yang efisien di sektor ini tidak hanya menguntungkan perusahaan secara individual tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik:  Financial

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Strategi Penjualan Konsinyasi Rahasia Untung Besar

Author

Scroll to Top