JAKARTA, opinca.sch.id – Dalam dunia keuangan dan investasi modern, Return On Invested Capital (ROIC) menjadi indikator penting untuk menilai efisiensi dan profitabilitas suatu perusahaan. ROIC mengukur seberapa besar laba bersih yang dihasilkan dari total modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham maupun kreditur.
Berbeda dengan rasio profitabilitas lain seperti Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), indikator ROIC memberikan gambaran lebih menyeluruh. Ia memperhitungkan seluruh modal yang digunakan perusahaan, bukan hanya ekuitas. Dengan begitu, Return On Invested Capital mampu menjawab satu pertanyaan fundamental: Apakah modal yang diinvestasikan benar-benar menciptakan nilai ekonomi?
Rumus dan Cara Menghitung ROIC (Return On Invested Capital)

Untuk memahami kinerja modal secara objektif, perhitungan Return On Invested Capital (ROIC) dilakukan menggunakan rumus berikut:
ROIC=NOPATInvested CapitalROIC = \frac{NOPAT}{Invested\ Capital}
Keterangan:
-
NOPAT (Net Operating Profit After Tax) = laba operasi setelah pajak.
-
Invested Capital = total modal yang digunakan untuk menjalankan operasi, mencakup ekuitas dan utang berbunga jangka panjang.
Langkah-langkah perhitungan ROIC:
-
Tentukan laba operasi (EBIT) dari laporan keuangan.
-
Hitung NOPAT = EBIT × (1 – tarif pajak).
-
Hitung modal yang diinvestasikan = Total aset operasional – kewajiban lancar tanpa bunga.
-
Bagi hasil NOPAT dengan modal diinvestasikan untuk mendapatkan nilai ROIC.
Contoh perhitungan:
Jika perusahaan memiliki NOPAT Rp50 miliar dan modal diinvestasikan Rp400 miliar, maka:
ROIC=50400=12.5%ROIC = \frac{50}{400} = 12.5\%
Artinya, setiap Rp100 modal yang diinvestasikan menghasilkan Rp12,5 laba bersih setelah pajak.
Mengapa Return On Invested Capital (ROIC) Lebih Unggul
Dalam analisis efisiensi keuangan, ROIC dinilai lebih representatif dibandingkan metrik lain karena alasan berikut:
-
Mengukur Total Efisiensi Modal
ROIC memperhitungkan utang dan ekuitas, memberi gambaran menyeluruh tentang efisiensi pendanaan. -
Menunjukkan Nilai Tambah Nyata
Perusahaan dengan ROIC tinggi menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan nilai ekonomi, bukan sekadar bertumbuh karena aset atau utang. -
Mudah Dibandingkan Antar Industri
Karena bersifat netral terhadap struktur modal, Return On Invested Capital memungkinkan perbandingan lintas sektor.
Sebagai tolok ukur, perusahaan dinilai menciptakan nilai (value creation) bila ROIC > WACC (Weighted Average Cost of Capital). Sebaliknya, jika ROIC < WACC, berarti perusahaan belum efisien dalam penggunaan modalnya.
Faktor yang Mempengaruhi ROIC
Beberapa faktor utama yang memengaruhi Return On Invested Capital antara lain:
-
Margin Operasional (NOPAT Margin): laba bersih tinggi memperkuat efisiensi modal.
-
Perputaran Aset (Asset Turnover): semakin cepat aset menghasilkan pendapatan, semakin tinggi ROIC.
-
Struktur Modal dan Leverage: penggunaan utang berlebih meningkatkan risiko meski sementara bisa menaikkan rasio.
-
Kualitas Investasi: keputusan ekspansi dan akuisisi yang tepat menjaga efisiensi modal.
-
Kondisi Ekonomi Makro: inflasi, suku bunga, dan kompetisi industri dapat memengaruhi hasil pengukuran ROIC.
Perusahaan dengan disiplin modal tinggi biasanya memiliki ROIC stabil dan berkelanjutan dari tahun ke tahun.
Analisis Return On Invested Capital dalam Keputusan Investasi
Nilai ROIC tidak dapat berdiri sendiri; analis keuangan biasanya membandingkannya dengan rasio lain seperti ROE, ROA, dan WACC untuk mendapatkan pandangan menyeluruh.
Interpretasi umum:
-
ROIC > 10% → efisien dan produktif.
-
ROIC 5–10% → moderat, tergantung sektor industri.
-
ROIC < 5% → tidak efisien, perlu evaluasi strategi investasi.
Investor seperti Warren Buffett sering menjadikan Return On Invested Capital sebagai parameter utama untuk menilai moat atau keunggulan kompetitif suatu perusahaan.
Strategi Perusahaan untuk Meningkatkan ROIC
Agar Return On Invested Capital meningkat secara berkelanjutan, perusahaan dapat melakukan strategi berikut:
-
Optimasi Operasional: kurangi biaya dan tingkatkan produktivitas.
-
Efisiensi Aset: jual atau restrukturisasi aset tidak produktif.
-
Inovasi Produk dan Teknologi: dorong margin melalui produk bernilai tinggi.
-
Kendalikan Utang: kelola leverage untuk menjaga biaya modal tetap rendah.
-
Fokus Investasi Bernilai Tambah: prioritaskan proyek dengan IRR di atas WACC.
Strategi tersebut menjaga agar modal yang diinvestasikan benar-benar memberi imbal hasil optimal.
Contoh Analisis ROIC di Dunia Nyata
| Komponen | Perusahaan A | Perusahaan B |
|---|---|---|
| NOPAT | Rp80 miliar | Rp60 miliar |
| Invested Capital | Rp600 miliar | Rp300 miliar |
| ROIC | 13,3% | 20% |
Walaupun Perusahaan A lebih besar, Perusahaan B menunjukkan Return On Invested Capital lebih tinggi — tanda bahwa efisiensi penggunaan modalnya lebih baik.
Investor cenderung memilih perusahaan seperti B karena ROIC tinggi menandakan profitabilitas jangka panjang dan daya saing tinggi.
Tantangan dalam Menggunakan Return On Invested Capital
Meski efektif, analisis ROIC memiliki keterbatasan:
-
Tidak semua aset operasional mudah diukur nilainya.
-
Fluktuasi pajak dan suku bunga memengaruhi hasil.
-
Praktik akuntansi berbeda antar perusahaan dapat menciptakan bias.
-
ROIC tinggi tidak selalu berarti rendah risiko sosial atau lingkungan.
Oleh karena itu, analis profesional sering melengkapi analisis ROIC dengan EVA (Economic Value Added) atau CFROI (Cash Flow Return on Investment) untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif.
Kesimpulan
Return On Invested Capital (ROIC) merupakan metrik utama dalam menilai efisiensi dan profitabilitas suatu bisnis.
Dengan mengukur seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari modal yang diinvestasikan, ROIC membantu manajemen dan investor menentukan kualitas sebenarnya dari pertumbuhan perusahaan.
ROIC yang konsisten lebih tinggi dari WACC menandakan bahwa perusahaan mampu menciptakan nilai ekonomi nyata, bukan hanya bertumbuh secara nominal.
Dalam lanskap keuangan modern, memahami dan mengoptimalkan Return On Invested Capital adalah fondasi untuk keberlanjutan dan daya saing jangka panjang.
Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Financial
Baca juga artikel lainnya: Visual Management Board: Pendorong Produktivitas Tim
