JAKARTA, opinca.sch.id – Ada momen ketika seseorang membuka berita pagi dan langsung disuguhkan dengan rentetan kabar buruk. Inflasi yang terus naik, ketidakstabilan ekonomi global, krisis iklim, ketegangan geopolitik, dan daftar kekhawatiran yang terasa tidak pernah habis. Di tengah gempuran informasi yang menakutkan itu, ada reaksi yang terasa sangat manusiawi namun secara finansial sangat merusak, yaitu belanja. Bukan karena butuh. Bukan karena senang. Melainkan karena merasa tidak ada gunanya menyimpan uang untuk masa depan yang terasa semakin tidak pasti. Doom spending adalah pola perilaku keuangan di mana seseorang menghabiskan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap kecemasan, pesimisme, atau rasa putus asa tentang masa depan. Logika di baliknya terdengar seperti ini: jika dunia sudah mau hancur, untuk apa menabung? Lebih baik nikmati saja sekarang. Pola ini mungkin memberikan kepuasan sesaat yang nyata. Namun dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan keuangan sangat serius dan sering kali sulit dipulihkan.
Mengapa Doom Spending Terjadi

Doom spending bukan sekadar kelemahan karakter atau kurangnya disiplin finansial. Ada faktor psikologis dan sosial yang lebih dalam yang mendorong pola ini:
Kecemasan yang Tidak Tersalurkan
Ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi masalah besar seperti krisis ekonomi atau perubahan iklim, otak mencari cara untuk mendapatkan rasa kontrol kembali. Belanja memberikan sensasi kontrol yang langsung terasa meski hanya ilusi. Oleh karena itu, doom spending sering menjadi mekanisme koping terhadap kecemasan yang tidak tertangani.
Pengaruh Media Sosial dan Berita Negatif
Algoritma media sosial dan platform berita cenderung memprioritaskan konten yang memicu respons emosional kuat, termasuk ketakutan dan kecemasan. Selain itu, paparan terus-menerus terhadap konten negatif bisa memperburuk perasaan pesimisme tentang masa depan dan memperparah kecenderungan doom spending.
Budaya Konsumsi sebagai Pelarian
Industri periklanan secara sistematis memposisikan konsumsi sebagai solusi untuk hampir semua masalah emosional. Bosan, cemas, sedih, atau stres semuanya punya tawaran produk sebagai jawabannya. Dengan demikian, doom spending juga merupakan produk dari budaya konsumsi yang sudah sangat dalam mengakar.
Perasaan Bahwa Menabung Tidak Ada Gunanya
Ketika inflasi tinggi menggerus nilai tabungan lebih cepat dari bunganya, atau ketika prospek kepemilikan rumah terasa semakin jauh dari jangkauan, motivasi untuk menabung bisa runtuh. Akibatnya, seseorang merasa lebih baik menikmati uang sekarang daripada menyimpan untuk tujuan yang terasa tidak realistis.
Tanda-Tanda Doom Spending dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengenali doom spending dalam perilaku sendiri adalah langkah pertama yang sangat penting. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai:
- Belanja impulsif setelah membaca atau menonton berita yang mengkhawatirkan.
- Pembelian yang didorong oleh pikiran seperti “apa gunanya menyimpan kalau nanti juga tidak terpakai.”
- Pengeluaran yang terus meningkat meski penghasilan tidak bertambah.
- Rasa lega sesaat setelah belanja yang segera digantikan oleh rasa bersalah atau penyesalan.
- Kesulitan menabung meski secara penghasilan seharusnya memungkinkan.
- Menggunakan belanja sebagai cara untuk melupakan kecemasan atau berita buruk.
Dampak Doom Spending terhadap Kesehatan Keuangan
Dampak doom spending terhadap keuangan pribadi bisa sangat serius jika dibiarkan berlangsung tanpa intervensi:
- Penipisan Tabungan dan Dana Darurat: Uang yang seharusnya menjadi bantalan finansial habis untuk pengeluaran konsumtif yang tidak menambah nilai jangka panjang.
- Penumpukan Utang: Banyak kasus doom spending yang melibatkan penggunaan kartu kredit atau pinjaman online secara tidak terkontrol untuk membiayai pengeluaran impulsif.
- Terganggunya Tujuan Keuangan Jangka Panjang: Dana pensiun, dana pendidikan anak, atau tujuan keuangan lain yang membutuhkan konsistensi jangka panjang menjadi sangat sulit dicapai.
- Lingkaran Stres yang Memperparah Dirinya Sendiri: Kondisi keuangan yang memburuk akibat doom spending justru menciptakan kecemasan baru yang mendorong lebih banyak doom spending.
Cara Keluar dari Pola Doom Spending
- Identifikasi Pemicunya: Catat kapan dan dalam kondisi apa keinginan belanja impulsif itu muncul. Seringkali ada pola yang jelas antara konsumsi berita tertentu dengan dorongan untuk belanja.
- Batasi Konsumsi Berita Negatif: Tidak perlu tahu semua berita buruk setiap jam. Oleh karena itu, tetapkan waktu tertentu untuk mengonsumsi berita dan hindari media sosial sebelum tidur.
- Temukan Mekanisme Koping yang Lebih Sehat: Olahraga, meditasi, menghabiskan waktu di alam, atau berbincang dengan orang-orang yang mendukung bisa memberikan efek menenangkan yang jauh lebih berkelanjutan dari belanja.
- Tetapkan Aturan Tunggu Sebelum Membeli: Terapkan aturan tunggu dua puluh empat jam sebelum menyelesaikan pembelian yang tidak terencana. Selain itu, tanyakan kepada diri sendiri apakah keinginan belanja itu masih ada keesokan harinya.
- Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan: Doom spending sering dipicu oleh rasa tidak berdaya terhadap hal-hal besar. Mengalihkan fokus ke tindakan keuangan yang konkret dan bisa dikendalikan, seperti menambah tabungan atau melunasi utang, bisa membantu memulihkan rasa kontrol yang lebih sehat.
Kesimpulan
Doom spending adalah respons yang sangat manusiawi terhadap dunia yang terasa semakin penuh ancaman. Namun ia adalah respons yang sangat mahal secara finansial dan tidak benar-benar menyelesaikan kecemasan yang mendasarinya. Pengeluaran impulsif mungkin memberikan kesenangan sesaat, namun kondisi keuangan yang semakin memburuk akibatnya justru menambah daftar kekhawatiran yang sudah ada.
Memahami doom spending dan akar psikologisnya adalah langkah pertama menuju kebebasan dari pola ini. Selain itu, mencari dukungan profesional, baik dari konsultan keuangan maupun psikolog, bisa sangat membantu bagi mereka yang merasa pola ini sudah cukup parah mempengaruhi kondisi keuangan dan kesehatan mental mereka. Karena pada akhirnya, ketahanan finansial dan kesehatan mental adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Financial
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Drip Pricing: Taktik Harga Tersembunyi yang Diam-Diam Menguras Dompet Konsumen
